semester akhir

04/02/18

*this post is written in Bahasa* 

(c) Maria Svarbova

Selayaknya mahasiswa semester akhir, omongan-omongan mengenai rencana sesudah kuliah belakangan kerap saya temukan. Teramat sering hingga akhirnya jadi kesal dan tersentil ingin menuangkan unek-unek disini.

Walaupun sejujurnya sedikit takut ketika ingin mengeluarkan unek-unek di internet. Takutnya kalau-kalau nanti di kemudian hari saya tidak setuju dengan perkataan saya itu, jadi terkesan menjilat ludah sendiri. Tapi ya sudahlah.

Saya kesal karena ketika berdiskusi mengenai "the dream job" ini beberapa pihak terkesan menjatuhkan pekerjaan atau profesi tertentu. Belum lagi kalau sudah membanding-bandingkan pekerjaan mana yang lebih keren, duh kesal setengah mati. Maksud saya gini loh, pekerjaan itu kan pilihan dan apapun pilihan yang seseorang ambil dalam hidup mereka ya itu hak mereka. Selama tidak ilegal dan tidak merugikan orang lain ya sudah lah cuy, ngapa lu yang sewot. Ya memang sih hak kamu juga untuk berpendapat, tapi kan tidak perlu menjelek-jelekkan pihak lain.

Saya rasa ini sudah 2018 dan sudah saatnya bagi kita semua belajar untuk berpikiran terbuka. Sudah bukan lagi waktunya untuk menyebut mereka yang kerja kantoran itu enggak asik, atau yang berseragam itu makan gaji buta, atau yang kerja di lapangan itu budak, dan lain sebagainya tanpa alasan yang jelas. (Validitas saja yang kamu generalisasikan, yang lain jangan!) Banyak loh manusia yang kamu anggap keren itu tumbuh besar dari hasil jerih payah pekerjaaan yang kamu bilang tidak keren itu, dan vice versa. Jadi tidak perlulah menjelek-jelekkan, apalagi dengan argumen-argumen yang sangat subjektif.

Sebenarnya ada hal menarik juga jika melihat di sisi lain spektrum topik ini, yaitu ketika terlalu memuja-muja suatu pekerjaan/profesi. Ya kalau memang secinta itu dengan pekerjaanmu, tunjukkanlah dengan tindakan. Ah tapi sudahlah, demi menjaga konsistensi tulisan hal itu dibahas di lain waktu saja yah.

(c) Maria Svarbova
Kemudian saya sekalian ingin cerita. Kala itu umur saya 16 tahun ketika pertama kali membaca kutipan dari Buya Hamka di display picture teman saya.
"Hidup kalau sekedar hidup, babi di hutan pun hidup. Bekerja kalau sekedar bekerja, kera di hutan pun bekerja."
Wow, amat menggugah hati. Lalu tercetuslah sebuah ide saya ingin bekerja di daerah pedalaman Indonesia. Pokoknya mau kerja yang bisa berdampak pada negeri ku tercinta. Namun setelah dikulik lebih dalam, ternyata tak semudah yang dibayangkan. Jadi ya sudah, biar yang lain saja dulu.

Waktu berlalu, saya pun terdampar di fakultas ilmu komunikasi yang dekat dengan periklanan. Tercetuslah ide berikutnya, ingin mendirikan agensi iklan sendiri. Ya, tapi namanya juga manusia itu berproses. Setelah dicoba dan dicoba, saya menyadari saya kurang suka dan kurang mampu ketika harus mencampuradukkan kreatifitas dengan komersialitas. Pusing. Jadi ya sudah, biar yang lain saja dulu.

Nah, kalau sekarang entah mau kamu bilang pasrah atau gimana, pokoknya mau jadi apapun nanti saya harus bahagia dengan pilihan saya. Persetan dengan kutipan Buya Hamka. Mau hidup seperti babi, atau kerja seperti kera. Toh, yang menjalani kan saya.  Pokoknya harus senang, karena pilihan itu saya yang pilih. Bukan karena ikut-ikutan ingin dibilang keren atau karena paksaan orang lain. Jangan mimpi bisa ikhlas membahagiakan orang lain, kalau diri sendiri belum bahagia.

Kalau  masih ada yang sewot yaudslah cuy, Tuhan menciptakan dua tangan untuk menutup kedua kuping.

Postingan ini sekaligus ingin saya jadikan permintaan maaf jika ada yang pernah saya lukai hatinya di masa silam karena menyinggung profesi ataupun pekerjaan kalian. Saya khilaf. Manusia selalu berubah, yang pasti hanyalah arah kiblat.

Akhir kata, mari biasakan tidak menjelek-jelekkan orang lain. Saya khawatir kalau terus-terusan begini kalau masuk neraka nanti bibir duluan. Yuk gunakan mulut kita untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, mengucapkan salam kepada dosen pembimbing misalnya.


P.s: 
1. Plis jangan diketawain kalau nanti beneran jadi kerja di pedalaman atau punya agensi.
2. Bukan kok bukan, ini bukan karena Dilan jadi pakai saya-kamu



4 komentar:

  1. bul yuk bul jadi content writer ihikihik

    BalasHapus
  2. Ehhh ia juga ya!

    Tulisan ini membuatku merenung sejenak lho :''

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus